Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Wiwitan dan Syukuran Bawang Merah di Kelompok Tani Ngudi Rahayu Bugel III

Admin Web OPD
Berita
28 Agustus 2026 01:22:50

Image Berita


Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kegiatan Wiwit Panen bawang merah yang digelar Kelompoktani Ngudi Rahayu, Padukuhan Bugel II, Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Kamis, 7 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi penanda rasa syukur panen bawang merah sekaligus momentum untuk melihat geliat ekonomi petani di tengah musim tanam palawija.

Kegiatan dihadiri Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Prolin TPHBun) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Wazan Mudzakir, beserta jajaran. Turut hadir Lurah Bugel Sunardi beserta pamong kalurahan, Koordinator BPP Panjatan Danang Heruseno beserta jajaran Penyuluh Pertanian, serta para petani anggota Kelompoktani Ngudi Rahayu.

Dalam sambutannya, Wazan Mudzakir memberikan apresiasi kepada para petani yang terus mengembangkan budidaya bawang merah sekaligus kepada Kelompoktani Ngudi Rahayu yang menyelenggarakan Wiwit Panen sebagai bagian dari tradisi dan rasa syukur atas hasil pertanian.

Dengan gaya santai dan sesekali diselingi candaan, Wazan mengajak para petani dan seluruh hadirin melihat bawang merah bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kalau tidak ada petani bawang merah, ibu-ibu di dapur tentu akan banyak kesulitan memasak. Warung-warung nasi goreng juga bisa sangat menderita kalau bawangnya tidak ada,” ujarnya disambut tawa dan suasana akrab para peserta.

Candaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pekerjaan petani memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga ketersediaan pangan dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

Tidak berhenti pada apresiasi, Wazan kemudian mengajak petani berdiskusi secara terbuka mengenai persoalan yang mereka hadapi, terutama dalam menentukan strategi penjualan hasil panen.

Salah satu topik yang menarik perhatian adalah pilihan petani dalam menjual bawang merah melalui sistem tebasan atau melakukan pitil sendiri. Menurutnya, kedua cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dihitung secara cermat oleh petani.

Penjualan dengan sistem tebasan relatif memberikan kemudahan karena petani tidak perlu menanggung seluruh proses panen, tenaga kerja, maupun penanganan hasil setelah panen. Namun, konsekuensinya petani harus mampu memastikan harga tebasan yang ditawarkan benar-benar memberikan keuntungan yang layak.

Sementara itu, dengan melakukan pitil sendiri, petani memiliki peluang memperoleh nilai jual lebih tinggi karena dapat melakukan sortasi dan menentukan waktu serta saluran pemasaran. Namun, pilihan tersebut juga membutuhkan tambahan tenaga, biaya, waktu, serta kemampuan dalam mencari pasar.

Jangan hanya bertanya berapa harga bawang hari ini. Petani juga harus menghitung berapa biaya yang sudah dikeluarkan, berapa hasil yang diperoleh, dan berapa keuntungan bersih yang akhirnya masuk ke kantong petani,” pesan Wazan dalam diskusi tersebut.

49 Petani, Produktivitas 32 Ton per Hektare

Potensi ekonomi bawang merah di wilayah Bugel terlihat cukup menjanjikan. Pada musim tanam palawija kali ini, tercatat 49 petani menanam bawang merah di lahan masing-masing.

Dengan produktivitas rata-rata mencapai 32 ton per hektare, budidaya bawang merah tersebut memberikan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan. Jika direkapitulasi, nilai agregat hasil penjualan bawang merah dari para petani mendekati Rp1 miliar.

Angka tersebut menjadi capaian yang cukup menggembirakan, terlebih lahan yang dikelola oleh para petani tidak begitu luas. Artinya, komoditas bawang merah mampu memberikan nilai ekonomi yang relatif tinggi dari luasan lahan yang terbatas.

Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan komoditas palawija dapat menjadi salah satu pilihan strategis bagi petani dalam meningkatkan pendapatan dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan.

Tekan Biaya, Dongkrak Produktivitas

Di tengah peluang ekonomi tersebut, Wazan mengingatkan agar petani tidak berhenti pada capaian produksi saat ini. Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan efisiensi usaha tani sehingga produktivitas meningkat, sementara biaya produksi dapat ditekan.

Petani didorong untuk terus mengikuti perkembangan inovasi teknologi budidaya bawang merah, mulai dari pemilihan benih, pengelolaan tanah, pemupukan berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman, pengaturan penggunaan sarana produksi, hingga penanganan pascapanen dan pemasaran.

Produksi tinggi itu penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah biaya produksinya. Jangan sampai produksi naik, tetapi keuntungan petani tidak ikut naik. Karena itu, kita harus terus mencari cara agar biaya semakin efisien dan produktivitas semakin baik,” tegasnya.

Menurutnya, inovasi tidak selalu harus berupa teknologi yang mahal. Perubahan cara berpikir, pencatatan biaya usaha tani, pemilihan input yang tepat, serta kemampuan membaca peluang pasar juga merupakan bagian penting dari inovasi pertanian.

Kegiatan Wiwit Panen Kelompoktani Ngudi Rahayu akhirnya bukan sekadar seremoni mengawali panen. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bertemu antara pemerintah, penyuluh, dan petani untuk berbicara mengenai masa depan usaha tani secara nyata—mulai dari produksi, biaya, panen, hingga bagaimana hasil panen tersebut memberikan keuntungan terbaik bagi petani.

Dari hamparan bawang merah di Bugel, tersimpan pesan sederhana: lahan boleh terbatas, tetapi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani tidak boleh terbatas. Dengan produktivitas yang terus ditingkatkan, biaya produksi yang semakin efisien, serta pemasaran yang semakin cerdas, bawang merah diharapkan mampu terus menjadi salah satu penggerak ekonomi petani di wilayah Panjatan dan Kulon Progo.

 

 

Source: Bidang Prolind DPPKP

WhatsApp Chat