Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Ketepatan Waktu Inseminasi Buatan Menjadi Kunci Keberhasilan Kebuntingan Sapi

Admin Web OPD
Artikel
10 Juli 2026 13:37:54

Image Berita


 Kulon Progo – Masih banyak peternak yang mengeluhkan sapi induk telah berulang kali dilakukan Inseminasi Buatan (IB), namun belum juga bunting. Kondisi tersebut sering kali langsung dikaitkan dengan kualitas semen beku atau bibit pejantan. Padahal, salah satu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan IB adalah ketepatan waktu pelaksanaan inseminasi.

Medik Veteriner Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, drh. Joko Purwoko, menjelaskan bahwa keberhasilan program Inseminasi Buatan sangat dipengaruhi oleh kesesuaian waktu penyuntikan semen dengan proses ovulasi atau pelepasan sel telur pada sapi betina.

"Sering kali kegagalan kebuntingan bukan disebabkan oleh kualitas semen beku, melainkan karena waktu pelaksanaan IB yang terlalu cepat atau justru terlambat. Oleh karena itu, peternak perlu memahami tanda-tanda birahi dan segera melaporkannya kepada petugas inseminator agar waktu IB dapat dilakukan secara tepat," jelas drh. Joko Purwoko.

Sebagai contoh, apabila seekor sapi mulai menunjukkan gejala birahi pada pukul 07.00 WIB, maka terdapat beberapa kemungkinan hasil berdasarkan waktu pelaksanaan IB.

Apabila inseminasi dilakukan pada pukul 09.00 WIB, peluang kebuntingan relatif lebih rendah, sekitar 35–40 persen. Pada saat tersebut, sel telur umumnya belum mengalami ovulasi sehingga sperma harus menunggu terlalu lama di dalam saluran reproduksi. Akibatnya, sebagian sperma dapat mengalami penurunan kualitas sebelum proses pembuahan terjadi.

Sebaliknya, apabila IB dilakukan pada rentang waktu 15.00–19.00 WIB, peluang kebuntingan meningkat menjadi sekitar 65–75 persen. Waktu ini merupakan periode yang paling ideal karena sperma memerlukan waktu sekitar 6–8 jam untuk mengalami proses kapasitasi, yaitu proses pematangan fisiologis yang membuat sperma mampu membuahi sel telur. Dengan demikian, ketika ovulasi terjadi pada malam hari, sperma telah berada dalam kondisi optimal. 

Sementara itu, apabila inseminasi baru dilakukan pada 08.00 WIB keesokan harinya, peluang kebuntingan menurun hingga di bawah 30 persen. Hal ini disebabkan sel telur telah mengalami ovulasi sejak beberapa jam sebelumnya dan hanya memiliki daya hidup sekitar 6–10 jam. Sel telur yang telah menua (aging ovum) memiliki kemampuan yang jauh lebih rendah untuk dibuahi sehingga risiko kegagalan kebuntingan meningkat.

Berdasarkan prinsip tersebut, peternak dianjurkan untuk selalu menerapkan AM–PM Rule, yaitu pedoman sederhana dalam menentukan waktu pelaksanaan Inseminasi Buatan.

 Birahi terdeteksi pada pagi hari, maka IB dilakukan pada sore atau malam hari.

 Birahi terdeteksi pada sore atau malam hari, maka IB dilakukan pada pagi hari berikutnya.

Menurut drh. Joko Purwoko, keberhasilan reproduksi tidak hanya ditentukan oleh ketepatan waktu IB, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan reproduksi, kualitas pakan, manajemen pemeliharaan, serta ketelitian peternak dalam mengamati tanda-tanda birahi.

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo mengimbau kepada seluruh peternak agar segera menghubungi Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) terdekat apabila menemukan gangguan reproduksi, sapi yang berulang kali gagal bunting, atau membutuhkan pelayanan Inseminasi Buatan. Penanganan sejak dini akan meningkatkan peluang keberhasilan kebuntingan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas ternak.

Melalui pelayanan kesehatan hewan yang profesional dan responsif, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo terus mengusung semangat "TOP TELATEN OPEN PANEN", yaitu telaten, tekun, teliti dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, penuh perhatian dan tanggung jawab, serta berorientasi pada pencapaian hasil produksi yang optimal demi meningkatkan kesejahteraan peternak di Kabupaten Kulon Progo.

 

Source: (Drh. Jok-Bid_Keswan)

WhatsApp Chat