Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Hama Utama Padi

Admin Bidang
Artikel
06 Februari 2023 00:00:00

Image Berita


Pertanaman padi varietas unggul yang sehat akan memberikan hasil dan pendapatan optimal bagi petani. Untuk itu, tanaman padi harus terus dirawat secara intensif dan dijaga dari gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT dapat menyebabkan tanaman padi mengalami puso atau gagal panen. Oleh karena itu, petani wajib memelihara pertanaman padi dan memahami gejala-gejala serangan OPT.

OPT pada tanaman padi meliputi gulma, hama, dan penyakit. Pengendalian OPT tersebut perlu dilakukan secara terpadu dengan mengombinasikan berbagai metode yang sesuai untuk menekan populasi sampai ambang batas yang tidak merugikan petani. Komponen pengendaliannya terdiri atas perbaikan cara bercocok tanam, pergiliran varietas dan varietas tahan, pemanfaatan musuh alami, dan pemilihan insektisida.

 

HAMA UTAMA PADI

  1. Wereng Batang Cokelat

Wereng batang cokelat sangat merugikan petani karena selain merusak tanaman padi secara langsung, juga merupakan hama penular (vektor) penyakit virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Wereng cokelat menyerang tanaman padi sejak tanaman muda hingga fase keluarnya malai. Dampak dan kerugian yang ditimbulkan oleh serangan wereng cokelat sangat besar, dalam waktu 10 hari bisa menurunkan hasil panen 10–50%. Parahnya, di Indonesia populasi wereng cokelat 10–15 ekor per rumpun sudah cukup untuk membuat puso dalam waktu 10 hari.

Penanaman padi secara terus-menerus dan tidak serempak menjadi salah satu pemicu ledakan hama wereng cokelat. Selain penanaman terus-menerus, ledakan wereng cokelat muncul juga karena aplikasi pestisida yang tidak efektif.

   

Nimfa wereng cokelat berkembang menjadi dua bentuk,

yaitu  makroptera (bersayap panjang; kiri) dan brakiptera (bersayap kerdil; kanan)

 

  1. Gejala Serangan
  2. Fase tanaman muda

Tanaman padi yang diserang (cairan selnya diisap) akan menguning, mengering, lalu mati. Gejala serangan ini disebut mati kering (hopperburn).

  1. Fase tanaman tua

Pada tanaman yang sudah keluar malai, serangan wereng cokelat menye-babkan pertumbuhan tanaman terhenti dan butir-butir padi menjadi hampa.

 

  1. Pengendalian

Wereng cokelat dapat dikendalikan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Perbaikan cara bercocok tanam
  1. Tanam tepat waktu.
  2. Tanam serentak; untuk mengantisipasi berpindahnya serangga dari pertanaman yang sudah panen ke tanaman yang belum dipanen karena serangga ini mempunyai kemampuan bermigrasi yang sangat tinggi.
  3. Tanam dalam barisan yang teratur; untuk memperlancar aliran angin dan cahaya matahari masuk ke dalam pertanaman sehingga tidak terbentuk iklim mikro yang cocok bagi perkembangan wereng cokelat.
    1. Pergiliran varietas dan varietas tahan

Penggunaan varietas tahan disesuaikan dengan keberadaan biotipe wereng cokelat yang ada di lapangan. Biotipe wereng cokelat yang berkembang di lapang didominasi oleh biotipe 3 dan di beberapa tempat telah ada biotipe 4. Balitbangtan telah menyediakan beberapa VUB yang tahan terhadap biotipe tersebut, yaitu Inpari 13, Inpari 31, dan Inpari 33.

  1. Pemanfaatan musuh alami

Musuh-musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng cokelat meliputi parasitoid, predator, dan patogen. Parasitoid yang menyerang telur wereng cokelat adalah Anagrus flaveolus Waterhouse, A. optabilis Perkins, A. perforator Perkins, Mymar tabrobanicum, Polynema spp., dan Gonatocerus spp. Parasitoid yang menyerang nimfa wereng cokelat adalah Elenchus spp. dan Haplogonatopus orientalis. Predator yang menyerang wereng cokelat adalah Cyrtorhinus lividipennis, Microvelia douglasi, Ophionea indica, dan Paederus fuscipes.

  1. Penggunaan lampu perangkap

Lampu perangkap (petromak) digunakan untuk mengurangi populasi wereng cokelat. Lampu dipasang pada malam hari di atas pematang sawah. Di bawah lampu disimpan tempat penampungan yang berisi air detergen agar serangga yang terperangkap akan jatuh ke air dan tidak dapat terbang. Lampu perangkap dipasang pada ketinggian 1,5–2,5 m dari permukaan tanah. Hasil tangkapan dengan lampu 100 watt dapat mencapai 400.000 ekor/malam. Wereng yang tertangkap segera dikubur, lalu pertanaman padi dikeringkan sampai retak. Segera setelah kering, wereng dikendalikan dengan insektisida yang direkomendasi.

  1. Penggunaan insektisida

Insektisida digunakan apabila serangan wereng cokelat sudah mencapai ambang batas ekonomi, yaitu:

  1. Populasi wereng cokelat 5 ekor per rumpun tanaman yang umurnya < 40 hst.
  2. Populasi wereng cokelat 20 ekor per rumpun tanaman yang umurnya > 40 hst.

Insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan wereng cokelat yaitu:

  1. Insektisida sintetis: buprofezin, BPMC, MIPC, dan karbofuran.
  2. Insektisida nabati: ekstrak kulit batang kepayang (Pangium edule) dengan takaran 200–250 gram per 12–15 liter air.

Waktu dan cara penggunaan insektisida:

  1. Keringkan area sawah sebelum aplikasi insektisida, baik yang disemprotkan atau butiran.
  2. Aplikasikan insektisida saat tidak ada air embun, antara pukul 8 pagi hingga 11 siang, lalu dilanjutkan sore hari. Insektisida harus mengenai batang padi.
  3. Gunakan dosis dan jenis insektisida yang tepat.

 

  1. Penggerek Batang Padi

Penggerek batang menyerang tanaman padi sejak di persemaian hingga menjelang panen. Pada stadia vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan sehingga aliran hara ke bagian atas tanaman terganggu yang menyebabkan pucuk layu dan kemudian mati. Gejala serangan pada stadia vegetatif disebut sundep. Pada stadia generatif, larva menggerek tanaman yang akan bermalai sehingga aliran hasil asimilasi tidak sampai ke dalam bulir padi. Gejala serangan pada stadia generatif disebut beluk.

  1. Spesies Pengerek Batang Padi

Di Indonesia, terdapat enam spesies pengerek tanaman padi, yaitu penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi putih, penggerek batang padi bergaris, penggerek batang padi kepala hitam, penggerek batang padi berkilat, dan penggerek batang padi merah jambu.

 

  1. Cara Pengendalian

Pengendalian hama penggerek batang padi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Pengendalian secara biologi

Beberapa predator hama penggerek batang padi umumnya menyerang semua serangga. Predator yang spesifik telur penggerek batang adalah belalang (Conocephalus longipennis). Predator pada ngengat antara lain laba-laba, capung, dan burung. Larva dan pupa tidak terserang musuh alami karena berada di dalam batang padi. Pengendalian hama ini juga bisa menggunakan parasitoid berupa serangga yang hidup sebagai parasit selama masa pradewasa penggerek. Beberapa parasitoid larva dan pupa adalah Apanteles chilonis, Bracon chinensis, Tropobracon schoenobii, dan Temelucha bigutella.

  1. Pengendalian secara mekanis
  1. Mengambil kelompok telur secara intensif terutama di persemaian.
  2. Memotong batang padi sampai dekat tunggul pada saat panen untuk mematikan larva sehingga mengurangi populasi penggerek generasi berikutnya.
  3. Menangkap ngengat secara massal dengan menggunakan petromak sebanyak 23 lampu/ha.
  4. Menangkap ngengat secara massal dengan menggunakan feromon.
    1. Pengendalian secara kultur teknis
  5. Pengaturan waktu tanam

Waktu tanam diatur berdasarkan penerbangan ngengat dari larva yang berdiapause. Tebar benih padi di persemaian bila sudah ada penerbangan ngengat sehingga telur yang diletakkan oleh generasi pertama penggerek batang bukan pada tanaman padi, tetapi pada rumput atau tanaman lain. Tanam dilakukan secara serempak agar sumber makanan penggerek batang padi menjadi terbatas.

  1. Rotasi tanaman

Rotasi atau pergiliran tanaman dengan tanaman selain padi dapat memutus siklus hidup hama penggerek batang padi.

  1. Pengaturan pengairan

Pengaturan pengairan juga dapat menekan populasi hama penggerek batang padi, terutama pada area yang luas.

  1. Pemupukan

Pemupukan N dapat membantu menyembuhkan tanaman yang terserang penggerek. Sementara pemupukan K akan membuat tanaman padi menjadi lebih kuat dan sehat sehingga tahan terhadap hama penggerek.

  1. Penanaman varietas tahan

Penanaman varietas tahan merupakan salah satu komponen pengendalian hama secara terpadu. Namun, sampai saat ini belum ada varietas yang betul-betul tahan terhadap hama penggerek batang padi.

  1. Pengendalian dengan pestisida nabati dan sintetis.

Tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai insektisida nabati di antaranya kepayang (Pangium edule), kalalayu (Erioglossum rubiginosum), loa (Ficus glomerata), gelam (Melaleuca leucadendra), kirinyuh (Chromolaena odorata L.), sarigading (Nyctanthes arbor-tritis), dan bintaro (Glutha renghas). Insektisida sintetis yang efektif digunakan antara lain karbofuran, karbosulfan, dimehipo, bisultap, bensultap, dan tiakloprid.

  1. Tikus Sawah

Tingkat kerusakan oleh tikus sawah pada tanaman padi di Indonesia bervariasi, dari ringan hingga puso atau gagal panen. Tikus sawah menyerang tanaman padi sejak di persemaian hingga menjelang panen. Pada persemaian berumur dua hari, seekor tikus bisa merusak lebih dari 200 bibit padi dalam satu malam, pada stadium anakan mampu merusak lebih dari 70 batang per malam, pada stadium bunting 103 batang, serta pada stadium padi bermalai 12 batang per malam.

  1. Ekologi Tikus Sawah

Tikus dapat berkembang biak dengan cepat. Tikus betina bunting selama 21 hari dan menyusui anaknya juga selama 21 hari. Tikus dapat kawin lagi dalam waktu 48 jam setelah melahirkan serta mampu bunting dan menyusui dalam waktu bersamaan. Tikus sawah selama hidupnya mampu melahirkan anak hingga empat kali. Jika umur varietas unggul padi rata-rata 120 hari, perkawinan tikus diperkirakan dimulai sejak padi dalam stadium bertunas maksimum. Dengan masa bunting selama 21 hari dan dapat kawin lagi 48 jam setelah melahirkan maka dalam satu musim tanam padi dapat terjadi tiga kali kelahiran.

Tikus sawah aktif pada malam hari, sementara siang hari berlindung di dalam liang atau semak-semak. Tikus sawah biasanya membangun sarangnya di pematang dengan ketinggian 15 cm dan lebar 30 cm atau lebih. Selain di pematang, tanggul irigasi merupakan habitat penting bagi tikus sawah untuk berkembang biak karena tanggul irigasi tidak akan terendam apabila terjadi banjir.

  1. Pengendalian

Berikut ini beberapa teknologi pengendalian tikus pada padi sawah.

  1. Sanitasi lingkungan dan manipulasi habitat

Kegiatan sanitasi antara lain melakukan pembersihan tanaman perdu atau gulma yang berada di area pertanaman padi dan sekitarnya, seperti di pematang sawah, tanggul saluran irigasi, dan jalan sawah agar tikus tidak bersarang di habitat tersebut.

  1. Kultur teknis

Pengendalian tikus secara kultur teknis meliputi pengaturan waktu tanam dan penanaman varietas yang sama pada area yang luas atau hamparan padi agar periode generatif padi bersamaan waktunya (serempak) sehingga dapat membatasi perkembangbiakan tikus.

  1. Pengendalian secara fisik
  1. Alat penyembur api (brender)
  2. Cara kerja alat ini adalah menyemburkan api dan udara panas langsung ke dalam sarang tikus sehingga tikus akan terusir atau bahkan mati.
  3. Penggunaan sinar lampu

Tikus tidak suka sinar lampu. Sinar lampu akan membuat tikus berhenti beraktivitas sehingga mudah membunuhnya.

  1. Memompa air atau lumpur ke dalam sarang tikus

Cara ini biasa dilakukan pada periode bera untuk mengusir tikus dari habitat utama. Dengan lumpur, tikus akan terjebak dalam sarang dan mati.

  1. Mengusir tikus dengan suara ultrasonik

Alat ini hanya berfungsi sebagai pengusir tikus. Tikus akan pergi bila mendengar suara ultrasonic

  1. Gropyokan massal

Gropyokan dilakukan secara bersama-sama oleh para petani. Mula-mula sarang tikus dibongkar, kemudian tikus diburu dan dibunuh secara bersama-sama.

  1. Pemerangkapan (dengan umpan)

Beberapa perangkap yang dikombinasikan dengan umpan dapat efektif menangkap tikus. Pada periode bera dan awal fase vegetatif, umpan yang digunakan adalah biji-bijian, sedangkan pada periode generatif, digunakan umpan yang mengandung protein tinggi, seperti ikan.

  1. Sistem bubu perangkap linier

Sistem bubu perangkap linier (Linear Trap Barrier System, LTBS) dirancang untuk menangkap tikus di daerah sarang/habitat tikus.

  1. Sistem bubu perangkap massal

Sistem bubu perangkap massal (Community Trap Barrier System, CTBS) efektif menangkap tikus dalam jumlah banyak dan terus-menerus.

  1. Pemanfaatan musuh alami

Musuh alami tikus sawah pada umumnya berasal dari kelompok burung (burung hantu, burung kowak maling), mamalia (musang, garangan, kucing, anjing), dan reptilia (ular).

  1. Pengendalian secara kimiawi

Secara umum, pengendalian dengan cara kimiawi dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Rodentisida

Rodentisida merupakan teknologi pengendalian yang paling banyak digunakan petani untuk membunuh tikus sawah. Penggunaan rodentisida sebaiknya sebagai alternatif terakhir karena dapat mencemari lingkungan.

  1. Fumigasi

Fumigasi (pengemposan) dilakukan dengan menggunakan asap belerang dan karbit. Cara ini lebih efektif daripada penggunaan rodentisida. Caranya dengan memasukkan asap belerang ke dalam lubang sarang tikus, kemudian semua lubang keluar ditutup dan tidak perlu dilakukan penggalian.

  1. Antifertilitas

Merupakan cara pemandulan tikus, salah satunya dengan menggunakan ekstrak biji jarak. Penggunaan bahan nabati pada dosis sublethal secara oral dapat menurunkan produksi sperma tikus hingga 90% dan menyebabkan kemandulan pada tikus betina.

  1. Pengendalian dengan Bubu

Salah satu cara pengendalian tikus sawah yang efektif adalah dengan pagar plastik yang dilengkapi dengan bubu. Cara ini efektif menangkap tikus dalam jumlah besar secara terus-menerus dan ramah lingkungan. Ada dua cara penggunaan pagar plastik dengan perangkap bubu, yaitu:

  1. Sistem bubu perangkap (Trap Barrier System, TBS)

TBS terdiri atas tiga komponen utama, yaitu bubu perangkap sebagai penjebak dan pengumpul tikus, pagar plastik untuk mengarahkan tikus masuk ke dalam bubu perangkap, dan tanaman perangkap untuk menarik tikus bergerak ke lahan perangkap. Bubu-bubu perangkap dipasang pada jarak tertentu, berselang-seling menghadap ke luar dan ke dalam petak perangkap. Pagar plastik dipasang rapat dengan tanah. Bagian bawah sisi plastik harus tertutup tanah atau air sedemikian rupa sehingga tikus tidak dapat menerobos masuk ke dalam pertanaman yang dipagari. Bagian pagar plastik yang dipasangi bubu diberi lubang untuk jalan masuk tikus. Cara ini diprioritaskan untuk daerah endemis tikus dengan populasi tinggi, terutama pada musim kemarau. TBS sebaiknya dikombinasikan dengan teknik pengendalian yang lain.

 

Skema sistem bubu perangkap beserta bagian-bagiannya

 

Penerapan TBS dengan menggunakan tanaman perangkap

  1. Sistem bubu perangkap linier (Linear Trap Barrier System, LTBS)

LTBS terdiri atas pagar plastik, bubu perangkap, dan penyangga ajir bambu (tanpa menggunakan tanaman perangkap atau umpan). Pagar plastik dipasang memanjang untuk menghadang dan memerangkap tikus. Pemasangan bubu dilakukan pada setiap jarak 20 m. Agar efektif memerangkap tikus, di depan lubang bubu dibuatkan jalan masuk. Tikus-tikus yang telah terperangkap dalam bubu segera direndam dalam air bersama bubunya hingga mati.

 

Penerapan LTBS di antara habitat utama tikus dan sawah

 

 

Bubu perangkap tikus dan cara pemasangannya

 

 

disunting oleh : Lihanto, SST.

Sumber Pustaka :

Tim PUSTAKA, 2017, Inovasi Budidaya Padi, IAARD PRESS, Jakarta.

Source: BPP Wates

WhatsApp Chat