Gerakan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Padi dilaksanakan di KT. Martani, Dobangsan, Giripeni, Wates dalam rangka pelaksanaan FFD Kegiatan adaptasi teknologi tahun 2018. Hadir dalam kegiatan tersebut kurang lebih 40 orang antara lain Koordinator, PPL, POPT BPP Wates, Babinsa Giripeni, Kades Giripeni, Pengurus dan Anggota KT. Martani, serta TIM Regu Perlindungan Tanaman (RPT).

Dalam kegiatan adaptasi teknologi ini teknologi yang diterapkan adalah Teknologi Jajar Legowo Super, yaitu teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1. Teknologi ini dihasilkan oleh Balitbangtan setelah melalui penelitian dan pengkajian pada berbagai lokasi di Indonesia. Selain menggunakan sistem tanam jajar legowo 2:1 sebagai basis penerapan di lapangan, bagian penting dari Teknologi Jajar Legowo Super adalah:
1. 1. Varietas
unggul baru potensi hasil tinggi,
2. Biodekomposer,
diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah (pembajakan ke dua)
3. Pupuk
hayati diberikan pada benih diaplikasikan melalui (seed treatment) dan
pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS),
4. Pengendalian
organisme pengganggu tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida
anorganik berdasarkan ambang kendali, serta
5. Alat
dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplanter) dan
panen (combine harvester)

Gerakan pengendalian ini dilakukan pada areal pesemaian dengan menggunakan Corynebacterium, PGPR dan Beuveria Bassiana untuk luas hamparan 25 Ha. Gerakan perlu dilakukan karena pada hasil pengamatan sebelumnya telah ditemukan hama wereng putih sebanyak 5 ekor imago per 5 ayunan jaring serangga. (li@nt)