Pemasaran cabai dengan sistim lelang di Kabupaten Kulon Progo

Kegiatan pemasaran cabai dengan sistim lelang yang dilaksanakan oleh kelompok tani dilaksanakan dengan mengumpulkan hasil panen petani di kelompok, kemudian pengurus kelompok menghubungi pedagang untuk penentuan harga sesuai kemampuan pedagang dan sebagai penentu pemenang lelang. Pemenang lelang adalah harga tertinggi. Sistem lelang ini mampu menaikan harga jual ditingkat petani karena terjadi penawaran harga jual cabai ditingkat petani.

Awal mula munculnya gagasan sistim lelang adalah permainan harga jual cabai yang sepenuhnya dikuasai oleh pedagang dan tengkulak lokal, sehingga kesejahteran masyarakat tani kurang terangkat dan harga jual cabai hanya bergantung pada pedagang lokal saja, selain permainan harga yang cenderung rendah, adapula kesenjangan sosial antar petani yang disebabkan perbedaan harga beli pedagang terhadap hasil tani masyarakat, dengan kata lain tidak terjadi keseragaman harga jual cabai antar petani serta harga beli yang diterapkan oleh sesama pedagang.

Kedua aspek sosial dan ekonomi tersebutlah yang sangat medorong munculnya ide atau gagasan untuk menerapkan sistim pemasaran dengan mengelompokkan hasil dari petani yang kemudian dijual dengan penggunaan sistim lelang, dengan sistim ini sangat efektif untuk menaikkan nilai ekonomi cabai dan memacu semanggat kebersamaan dikarenakan dikelola oleh kelompok tani setempat dengan kepengurusan dan pengelolaannya dari anggota kelompok tani itu sendiri. Dengan kegiatan ini kelompok  mendapatkan keuntungan tersendiri berupa penambahan kas kelompok dengan cara memotong Rp 100,- sampai Rp 1000,- per kilogram, tergantung harga jual pada hari tersebut. Pendapatan kelompok tani tersebut digunakan guna untuk kegiatan operasional  kelompok. Dengan melihat prospek didalam hal pemasaran cabai yang dinilai semakin cerah dan banyak menguntungkan ini, maka muncullah ide atau gagasan mengenai organisasi tani yang mempunyai cakupan wilayah lebih luas didalam hal pemasaran hasil – hasil pertanian pada umumnya dan pemasaran cabai pada khususnya, yaitu dibentuklah suatu wadah tani dalam hal pemasaran hasil produksi pertanian yang diberi nama Aspartan (Asosiasi Pasar Tani).

Aspartan anggotanya terdiri dari beberapa kelompak tani diwilayah pesisir Kulon Progo mulai dari Kapanewon Temon sampai Kapanewon Galur (Karangsewu, Glagah, Karangwuni, Garongan, Pleret, Bugel, Siliran, Gupit, dan Trisik ), terdiri dari 35 kelompok tani, terwadahi dalam 21 kelompok pasar lelang, hal ini tentu saja akan lebih mudah untuk mengambil kebijakan – kebijakan didalam hal pertanian, mulai dari waktu tanam, informasi dan pengadaan sarana produksi (benih, pupuk, pestisida), kegiatan pemasaran (pasar lelang) dan kegiatan pengolahan.

Keunggulan dari sistim lelang adalah mempererat hubungan antar anggota/masyarakat tani, karena peran serta dalam kegiatan pemasaran dilakukan dan dikelola oleh anggota kelompok tani, disamping itu dapat pula menaikkan nilai ekonomi dari hasil produksi pertanian yang berupa cabai, karena tidak hanya dari pedagang lokal saja yang mengikuti kegiatan lelang tetapi dapat pula diikuti pedagang luar daerah, sehingga memperkecil adanya praktek mafia dagang atau persengkongkolan harga oleh pedagang atau tengkulak – tengkulak cabai. Keunggulan lain produk cabai dilahan pesisir  mampu bersaing dengan hasil cabai dari daerah lain adalah cabai yang dihasilkan mempunyai kwalitas yang jauh lebih baik, diantara nya : lebih tahan busuk sehingga mempunyai daya simpan lebih lama serta tahan terhadap transportasi jarah jauh.

Perputaran transaksi keuangan di pasar lelang dalam sehari dapat dihitung dari jumlah cabai di kelompok lelang,  setiap harinya rata –rata 4 ton cabai segar di 9 kelompok lelang yang aktif di musim tanam ini mencapai 36 ton cabai per hari di kali harga rata – rata Rp  35.000 maka nominal rupiah yang beredar sekitar kurang lebih Rp 1.260.000.000 per hari.