Panen Cabai Lahan Pasir Kulon Progo Amankan Stok Pangan

Seruan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo kepada penyuluh dan petani agar menjaga pertanian terus bergerak dalam rangka mendukung ketersediaan pangan dengan meningkatkan ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat direspon oleh petani lahan pasir di Kabupaten Kulon Progo dengan budidaya cabai dan tanaman hortikultura di lahan pasir maupun di bawah tegakan kelapa. Peran penyuluh pertanian  dan pemangku kepentingan yang berkomitmen untuk menggerakkan pertanian dengan setia mendampingi petani sangatlah perlu diapresiasi.

    Dukungan dari Pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo merupakan salah satu upaya pemerintah bersama dengan masyarakat untuk memanfaatkan lahan pasir yang ada di Kulon Progo khususnya bagian selatan. Dukungan berupa alat mesin pertanian, infrastruktur berupa jalan usaha tani, sarana dan prasarana perairan  dengan pengembangan jaringan irigasi air tanah  dangkal adalah salah satu strategi yang telah dilaksanakan. Penataan kawasan pohon kelapa yang dibawahnya ditanami cabai juga ditata dengan baik sehingga tanaman yang ada dapat tumbuh, berkembang dan berproduksi dengan baik. Seperti harapan pemerintah  agar lahan yang ada di pesisir dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka peningkatan kesempatan kerja masyarakat,  pendapatan dan memberikan kontribusi untuk menurunkan angka kemisikinan yang mungkin terjadi akibat dari adanya pandemi covid19.

    Wilayah pesisir Kulon Progodapat dimanfaatkan sebagai asset dan sumberdaya penting karena semakin berkurangnya lahan pertanian terutama sawah tiap tahunnya. Pengembangan usaha pertanian lahan pasir menjadi solusi pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap pangan pokok. Cabai adalah salah satu komoditas yang menunjukkan angka produktivitas tertinggi di Kulon Progo. Geliat budidaya cabai dilahan pasir  Kulon Progo semakin berkembang, terlebih setelah dibentuk pasar lelang cabai untuk membantu masyarakat memasarkan hasil panaen.

     Tidaklah mengherankan jika kawasan pantai Kabupaten Kulon Progo tumbuh dengan baik dan pesat tanaman cabai dan tanaman hortikutura. Hal tersebut karena bertanam cabai  dapat dilakukan dimana saja asalkan aspek unsur hara mampu terpenuhi. Tanaman cabai varietas Laba yang dikembangkan oleh petani di kapanewon Panjatan sudah dapat dipanen pada umur 75 hari. Petani lahan pasir selalu disiplin mengganti komoditas tanaman apabila sudah 12 sampai 15 kali masa panen. Mereka tidak hanya bertanam namun namun juga mengembangkan benih lokal. Upaya ini dilakukan agar petani mandiri dan tidak selalu tergantung produksi benih yang dijual di pasaran.

     Dilahan yang sebelumnya terbengkalai tumbuh subur tanaman cabai dan hortikultura lainnya. Pengelolaan lahan pasir untuk tanaman cabai tidaklah sulit, Pasir cukup diberi pupuk kandang sebagai unsur hara dan memperhatikan jadwal penyiraman, Untuk cabai rawit penyiraman dilakukan tiap tiga hari sekali sementara untuk cabai keriting dan cabai merah penyiraman dilakukan setiap hari.

     Diawal puasa ini petani cabai di wilayah Panjatan sudah mulai panen cabai dengan varietas Laba. Luasan tanaman cabai di wilayah ini mencapai 250 hektar dengan produksi perhari 40 ton yang penjualannya melalui pasar lelang. Produksi tersebut dapat mencukupi kebutuhan cabai di DIY dan di Jakarta, Diperkirakan puncak panen sekitar bulan Juni, untuk panen kali ini kwalitas dari cabai yang dihasilkan sangat baik dan tidak terserang OPT. Harapan petani agar harga jual cabai tidak mengalami fluktuasi ataupun penurunan harga yang drastis sehingga dapat mencukupi kebutuhan mereka di bulan puasa dan menghadapi lebaran. Hal tersebut sesuai dengan strategi  sektor pertanian Indonesiamenghadapi covid 19 yaitu semua insan pertanian tetap bekerja dengan semangat tinggi dan tangguh mewujudkan kemandirian pangan bangsa, meningkatkan produksi nasional berbasis pertanian rakyat dan keberpihakan pada petani kecil, optimalisasi lahan dan pekarangan dengan tanaman pangan untuk kebutuhan rumah tangga, memetakan daerah rawan pangan dan alokasi kebutuhan pangan secara tepat,  menciptakan efisiensi rantai pemasaran produk pertanian dan keberpihakan pasar pada petani serta menjaga petani tetap sehat, sejahtera dan semangat agar tetap terus berproduksi. (Sumber : Martono, S.IP, S.TP, MM)

Edt:Rey,@zis