WATES "WisatA TEngah Sawah"

 

WATES...(Wisata TEngah Sawah), demikian nama yang disematkan pada lokasi spot swafoto oleh Ismail (32 tahun) yang merupakan pemilik/penggarap lahan sawah. Dia adalah salah satu anggota kelompok KPPM Ngestiharjo, Wates. Menurutnya ide membuat spot foto tersebut sudah cukup lama, namun baru dapat direalisasikan pada musim tanam ke 3 di lahan tersebut atau tepatnya mulai bulan Agustus 2019, karena pada MT 1 dan 2 lahan tersebut merupakan lahan untuk budidaya padi. Menurutnya, latar belakang pembuatan spot foto tersebut adalah untuk antisipasi harga cabai yang fluktuatif saat panen, juga sebagai wahana edukasi terhadap pengunjung terutama anak-anak dan remaja bahwa bertani itu asik. Kedepan menurutnya, sebagai wahana edukasi perlu adanya demonstrasi cara, bagaimana cara menanam, menyiram, memupuk, pengenalan hama dan musuh alami, cara pengendalian dan cara panen, sehingga pengunjung yang datang tidak hanya mendapatkan foto, tetapi juga ilmu yang bermanfaat.

Gambar : Ismail bersama PPL BPP Wates

Tanaman yang ada pada lahan yang dikelola Ismail adalah tanaman cabai sebagai tanaman utama dengan diselingi kangkung dan jagung manis. Sebenarnya penanaman tanaman bunga sendiri tidak hanya berfungsi sebagai latar belakang swafoto, tetapi lebih utama sebagai tanaman perangkap yang berfungsi sebagai tanaman refugia yaitu untuk berlindung sementara dan penyedia tepungsari untuk makanan alternatif berbagai predator atau sebagai mikrohabitat bagi musuh alami (baik predator maupun parasitoid) agar pelestarian musuh alami  bagi hama tanaman utama dapat tercipta dengan baik.

Pengelolaan serangga dalam pertanian organik menerapkan metode-metode yang dapat meningkatkan keragaman genetik, keanekaragaman hayati dan habitatnya, serta terhadap struktur sosial dan komunitas pedesaan. Strategi “tolak tarik” (Push-pull strategy) merupakan salah satu teknik pengendalian hama yang berprinsip pada komponen pengendalian non toksik, sehingga dapat diintegrasikan dengan berbagai metode pengendalian lainnya untuk menekan populasi hama. Strategi ini juga dapat meningkatkan peran musuh alami, terutama parasitoid dan predator pada pertanaman.

Tidak semua tanaman bisa menjadi tanaman refugia, salah satu syarat untuk menjadi tanaman refugia adalah:

1.    Warna tanaman dan bunga yang mencolok, biasanya warna kuning

2.    Benih/bibit mudah diperoleh

3.    Mudah ditanam

4.    Regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan

5.    Cocok dijadikan tanaman multiple crop

 

Penerapan tanaman refugia sebagai trap crop perlu memperhatikan beberapa aspek diantaranya yaitu waktu tanam refugia, sebaiknya ditanam sebelum tanaman utama agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan berkembang baik bagi musuh alami dan serangga polinasi. Penanaman refugia diusahakan sejajar dengan sinar matahari sehingga tidak menutupi atau mengganggu penyerapan sinar matahari bagi tanaman utama. Pada lahan yang diusahakan Ismail terdapat beberapa tanaman refugia antara lain bunga matahari, bunga kertas, bunga kenikir, bunga jengger dan bunga songgolangit.

Meskipun spot ini hanya satu musim tanam saja, kedepan harapan Ismail tidak hanya dirinya yang mengusahakan hal semacam ini tapi bisa diikuti oleh lahan-lahan yang ada disekitarnya. Selain itu penanaman refugia juga bisa dilakukan pada MT 1 dan 2 di sepanjang jalan yang ada di bulak KPPM dan sekitarnya, sehingga populasi musuh alami dapat mengimbangi populasi hama yang ada. (sumber : Ismail) edt.li@nt