STUDI BANDING BUDIDAYA BAWANG MERAH

Kamis, 12 Juli 2018 09:02:36 - Oleh : BPP Wates

Kontes Kambing PE dan Sapi Potong

Gerakan Pengendalian OPT

Kunjungan Indikasi Geografis Kementerian Hukum dan HAM

Kunjungan Benchmarking LAN

Sebagian Peserta SB foto bersama Nara Sumber  

 

STUDI BANDING BUDIDAYA BAWANG MERAH

 

Dalam rangka kegiatan Sekolah Lapang Budidaya Bawang Merah KT. Tritunggal, Trimulyo, Sogan, Wates, Kulon Progo, beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Sabtu 23 Juni 2018 melakukan Studi banding ke Kelompok Tani Lestari Mulyo, Nawungan I, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Studi banding  ini diikuti oleh 50 orang, yaitu terdiri dari anggota kelompok tani Tritunggal, Perwakilan Pamong Desa, PPL Pendamping dan Petugas POPT dari BPP Kecamatan Wates. Untuk lebih memahami tentang proses budidaya bawang merah yang dilakukan di Kelompok Tani Lestari Mulyo, para peserta aktif untuk bertanya dari proses pengolahan lahan, varietas yang digunakan, pemeliharaan, penanganan hama dan penyakit, proses panen dan pasca panen serta pemasaran.

Secara umum teknis budidaya yang dilakukan di kelompok Tritunggal dan KT. Lestari Mulyo tidak jauh berbeda. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketinggian tempat lahan budidaya di KT Tritunggal antara 6-18 Mdpl, sedangkan di KT Lestari mulyo 250 mdpl.

Budidaya bawang merah di KT. Lestari Mulyo sudah dilakukan sejak tahun 1970an. Awalnya hanya dilakukan oleh 2 orang petani, karena terkendala masalah ketersediaan air. Namun seiring berjalannya waktu dan ditemukannya 2 titik sumber mata air yang cukup besar maka mulailah petani dari yang awalnya petani tembakau beralih menanam bawang merah.

Budidaya bawang merah di KT Lestari Mulyo jarang sekali mengalami serangan hama dan penyakit. Hal ini disebabkan karena tingginya kesadaran anggota kelompok dalam berorganisasi dan mematuhi kesepakatan kelompok, yang salah satunya adalah Tanam serentak. Toleransi waktu tanam adalah 12 hari. Lebih dari 12 hari maka anggota sudah tidak boleh lagi menanam bawang merah. Terdapat sanksi sosial apabila kesepakatan ini dilanggar, yaitu : resiko ditanggung sendiri dan tidak diberikan jatah air untuk penyiraman. Penyiraman tanaman pada budidaya bawang merah yang dilakukan antara 32-35 kali mulai dari penanaman. Tumpang sari bawang merah di KT. Lestari Mulyo hanya dilakukan di musim tanam 2.  

Budidaya bawang merah di KT. Lestari Mulyo, sama sekali tidak menggunakan pestisida kimia, namun untuk pupuk, selain pupuk kandang dengan dosis 40 ton/ha juga menggunakan pupuk anorganik meskipun dosisnya masih dibawah rekomendasi yang dianjurkan. Pupuk hayati yang sering diaplikasikan oleh mbah Warno (1 dari 2 petani yang bercocok secara organik) adalah menggunakan  rendaman sabut kelapa (yang masih basah)  selama 2-3 hari. Air rendaman tersebut  kemudian di tambah 2 sachet susu untuk  1 tong dengan cara disiramkan. Pupuk ini sebagai pengganti KCl yang diaplikasikan pada tanaman yang sudah berumur 25-30 hari dengan tujuan untuk menambah bobot umbi.

Pengendalian hama dan penyakit lebih ditekankan pada tindakan pencegahan. Hal yang menarik adalah bahwa di areal pertanaman bawang merah tidak ditemukan adanya bekas kemasan pestisida kimia. Hal ini sudah menjadi keputusan anggota kelompok dan juga adanya dukungan dari instansi terkait bahwa setiap hari Jum’at sore diadakan gerakan pengendalian dengan pertisida hayati baik yang disediakan dari instansi maupun dari anggota kelompok sendiri.

Pestisida hayati yang sering diaplikasikan oleh anggota kelompok di KT. Lestari Mulyo untuk pencegahan antara lain menggunakan bahan-bahan : 5 buah cabai merah ditambah puyang (empon-empon) untuk 1 tangki; Air rendaman serbuk gergaji dari kayu mahoni; air rendaman biji mahoni yang ditumbuk;  umbi gadung; dan biji kecubung.

Budidaya bawang merah yang dilakukan di KT. Lestari Mulyo bahwa dengan penggunaan  1 kg benih, rata-rata dapat menghasilkan 14-15 kg panen. Untuk pemasaran anggota kelompok tidak mengalami kesulitan karena musim tanam sudah diatur, sehingga para pedagang sudah hafal kapan saatnya panen atau bahkan sudah dipesan jauh hari sebelum panen. (*lht)   

 

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak