TEMU TEKNIS OPTIMALISASI LAHAN DENGAN "TURIMAN" DI BPP WATES

Selasa, 9 Juli 2019 13:57:29 - Oleh : BPP Wates

Kapusluh Hadiri Seminar Regional Perhiptani dan KTNA DIY 2019 di Sleman

TEMU TEKNIS OPTIMALISASI LAHAN DENGAN "TURIMAN" DI BPP WATES

PEMBUKAAN PEDA KTNA DIY 2019

Kulon Progo Berjaya di "Lantip Trengginas" PEDA KTNA di Sleman

Kunjungan ke Lokasi Demplot peserta Temu Teknis  

 

Budidaya tanaman  yang belum optimal dan penurunan luas lahan pertanian menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi produksi tanaman pangan. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi padi, jagung dan kedelai adalah dengan mengoptimalkan penggunaan lahan dengan mengatur jumlah populasi tanaman dan menggunakan teknologi tanam yang tepat. Penggunaan sistem tanam tumpangsari dengan populasi rapat diharapkan dapat meningkatkan produksi padi, Jagung dan kedelai.

Tumpangsari adalah bentuk pola tanam yang membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman dalam satuan waktu tertentu. Tumpangsari ini merupakan suatu upaya dari program intensifikasi pertanian dengan tujuan untuk memperoleh hasil produksi yang optimal, dan menjaga kesuburan tanah. Sistem tanam tumpangsari antar komoditas pangan telah banyak dipraktekan petani. Sistem tanam tumpangsari dimaksudkan agar kekurangan pangan akibat kegagalan panen dapat dicegah dan serangan hama dan penyakit dapat ditekan. Sistem tanam tumpangsari yang dipraktekkan petani hasilnya rendah karena jarak tanam tidak diatur, kombinasi tanaman tidak tepat dan tidak saling komplementer. Bila komposisi tanaman dan jarak tanam ditata dengan tepat maka hasil dari kombinasi tanaman per satuan luas lebih tinggi 2 dari sistem monokultur. Hal ini dapat menjadi solusi dan terobosan dalam pencapaian swasembada pangan. Mempertimbangkan manfaat dan keunggulan dari sistem tanam tumpangsari untuk peningkatan pendapatan petani dan pencapaian swasembada pangan nasional dilaksanakan kegiatan Pengembangan Sistem Tanam Tumpangsari Padi Jagung dan Kedelai secara nasional.

Praktek budidaya yang mampu meningkatkan daya guna input yang diberikan maupun sumberdaya lahan yang ada;

ü Penanaman secara bersama lebih dari 1 komoditas pada dimensi ruang dan waktu yang bersamaan;

ü Tercapainya efisiensi

 

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Wates bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanin (BPTP) DIY menyelenggarakan Temu Teknis  Teknologi Budidaya Tumpangsari Tanaman (Turiman) khususnya  jagung- kedelai yang bertempat di BPP Wates pada hari Kamis, 4 Juli 2019. Kegiatan di hadiri 50 rang yang terdiri dari Penyuluh dan petani di sekitar demplot (KT. Ngudi Makmur, Seworan, Triharjo).

Secara ekologis keunggulan pertanaman ganda :

1.     Penyerapan energi sinar matahari lebih banyak;

2.     Sistem pertanaman ganda memungkinkan pemanfaatan ruang vertikal dengan lebih baik dibandingkan sistem monokultur;

3.     Sistem pertanaman ganda mampu mengurangi kerusakan akibat angin dan hujan, karena dapat memanfaatkan kanopi tanaman;

4.     Sistem pertanaman ganda mampu menghasilkan bahan organik dari banyaknya biomassa yang dihasilkan dan;

5.     Pada sistem pertanaman ganda jumlah sinar matahari yang jatuh ke tanah lebih sedikit sehingga mampu menekan pertumbuhan gulma.

 

Aspek penting dalam menentukan kombinasi tanaman tumpangsari

ü Aspek kompatibilitas tanaman penyusun;

ü Tidak ada pengaruh saling merugikan antar tanaman penyusun;

ü Minimalisasi kompetisi faktor produksi (cahaya, air, hara);

ü Tidak memiliki hama dan penyakit yang sama; dan

ü Memiliki pengaruh saling menguntungkan dalam memenuhi kebutuhan hara dan menghindarkan serangan hama dan penyakit

 

Keberhasilan sistem integrasi/tumpangsari tanaman

1.       Pertanaman tumpangsari memiliki beberapa aspek pengelolaan:

Ö       Pengelolaan populasi tanaman (jarak tanam dan pola tanam);

Ö       Pengelolaan lahan dan lingkungan tumbuh tanaman;

Ö       Pengelolaan waktu tanam;

Ö       Pengelolaan ruang, dan;

Ö       Pengelolaan pemeliharaan.

2.       Penerapan teknologi unggul pada masing-masing komoditas.

 

edt. li@nt

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak